Mari lestarikan Paus


Paus merupakan seekor mamalia yang hidup di laut, karena dia bernafas dengan menggunakan paru-parunya, paus mempunyai ukuran badan yang sangat besar. Paus suka berpinda-pindah tempat sehingga sulit untuk menentukan keberadaan paus. Menurut peneliti Indonesia, satu per tiga paus di dunia berada di laut Indonesia, dengan berbagai jenisnya. Maka bersyukurlah dengan kekayaan alam tersebut yang telah diberikan oleh Tuhan. Tetapi di Indonesia masih banyak perburuan ikan paus yang liar atau illegal. Perburuan tersebut dilakukan dengan cara

jangan hentikan keceriaannya…save paus!

yang kejam, entah itu untuk kepentingan ekonomi atau untuk makanan pokok masyarakat setempat. Tetapi di bagian timur Indonesia seperti NTT, Ambon, Maluku dan Papua masyarakat memburu ikan paus untuk kepentingan tradisinya, dan sebagai makanan pokok untuk masyarakatnya. Pemerintah masih memaklumi jika paus digunakan untuk kepentingan tradisi masyarakat. Namun pemerintah seharusnya mengontrol aktivitas masyarakat yang hidup di daerah pesisir pantai, jangan sampai masyarakat seenaknya memburu ikan paus dengan ilegal.

Ikan paus juga identik dengan Negara Jepang. Jepang sejak dahulu telah mengkonsumsi ikan paus sebagai sumber protein. Pemburuan ikan paus merupakan budaya orang Jepang sejak dulu. Akhir-akhir ini ada informasi bahwa masyarakat Jepang mendukung pemburuan ikan paus. Mereka memburu ikan paus dengan alasan untuk penelitian ilmiah, walaupun pada akhirnya ikan paus tersebut dijual ke toko-toko, atau restoran. Hal itu mendapat kecaman dari pemerhati mamalia tersebut. Meskipun mempunyai gizi yang tinggi, ikan paus merupakan mamalia yang dilindungi populasinya, sehingga jika terlalu sering paus diburu, populasinya akan menurun. Begitu juga di kepulauan Nusa Tenggara Timur mereka memiliki mata pencaharian berburu ikan paus. Masyarakat tersebut tidak menggunakan alat-alat modern untuk membunuh ikan paus, hanya dengan tombak yang terbuat dari bambo untuk membunuh ikan paus tersebut dan butuh nyali yang besar untuk melakukan hal itu. Tetapi masyarakat tersebut tidak membunuh ikan paus yang berjenis paus biru, karena paus biru diyakini oleh masyarakat sebagai penyelamat dari leluhurnya. Setelah nelayan mendapatkan ikan paus, ikan tersebut kemudian dibagikan kepada masyarakat sekitar sebagai makanan sehari-harinya. Namun pengawas kelautan NTT sudah memaklumi kegiatan tersebut, karena untuk kebutuhan masyarakatnya, dan tidak secara berlebihan.

Selain pemburuan ikan paus, di Kupang NTT juga ikan paus sering terdampar ke tepi pantai. Ada yang menilai bahwa paus itu terbawa arus dan ada juga yang mengaitkan dengan mitos-mitos nenek moyang terdahulu. Masyarakat NTT lebih memilih untuk memotong ikan paus tersebut dan membagikan dagingnya ke masyarakat sekitar dari pada ikan tersebut mati membusuk. Berbeda dengan masyarakat Garut Jawa Barat, beberapa waktu lalu ada paus yang terdampar di pantai garut dengan kondisi sudah mati. Tetapi masyarakat hanya menjadikan paus tersebut sebagai tontonan, tidak ada yang mau memanfaatkan ikan paus tersebut. Mungkin karena tidak biasa untuk memakan ikan paus sehingga paus hanya menjadi bangkai. Sebenarnya masyarakat belum mengerti bagaimana cara mengatasi paus jika terdampar di pantai. Seharusnya penanganan yang benar adalah jika paus terdampar di pantai, laporkan langsung ke dinas-dinas seperti kehutanan, badan kelautan atau penjaga pantai setempat. Jangan biarkan paus terdampar begitu lama, agar jika paus masih hidup paus segera dikembalikan lagi ke pantai. Namun itu juga tergantung ukuran pausnya, biasanya paus besar itu mati dan busuk di tepi pantai, tanpa ada perhatian dari masyarakat.

Pada hari ini tanggal 2 Desember 2012 merupakan hari konvensi paus sedunia, untuk itu diharapkan pihak pemeritah lebih proaktif dalam melindungi populasi ikan paus, dan lebih intens dalam mengontrol masyarakat yang berlaut. Masyarakat juga seharusnya sadar akan menjaga populasi ikan paus. Tidak cukup bagi kita memperingati hari konvensi paus ini tetapi kita harus mewujudkannya dengan menjaga paus. Mari kita jaga bersama populasi ikan paus untuk masa depan kita.

Muhammad Ihsan Nurfadilah
http://www.kompasiana.com/ihsannf

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s