Menghitung Harga Bahan Bakar Minyak Secara Sederhana


 menghitung harga BBM

 

 

 

Beberapa hari ini berita tentang rencana kenaikan Bahan Bakar Minyak atau biasa disebut BBM banyak sekali menghiasi media massa di Indonesia baik media cetak maupun elektronik. Opini serta tanggapan dari berbagai kalangan muncul di berbagai tulisan baik yang pro maupun kontra akan kenaikan BBM yang disubsidi oleh pemerintah. Tulisan ini tak hendak memperkeruh tulisan-tulisan lain atau opini yang sudah dimunculkan oleh berbagai kalangan di media massa melainkan hanya memberi pandangan secara sederhana apa dan bagaimana seharusnya bahan bakar minyak itu dikonsumsi.

Salah satu mantan Menteri Perekonomian di masa Presiden Abdurrahman Wahid yaitu Bapak Kwik Kian Gie telah menjelaskan konsep perhitungan harga BBM bersubsidi, namun ada kalanya kita harus mendefinisikan arti kata subsidi tersebut. Apakah itu subsidi? Dan mengapa subsidi itu harus diberikan pada masyarakat? Subsidi bahan bakar minyak pada awalnya adalah dorongan pemerintah pada masa Presiden Soeharto kepada masyarakat untuk beralih menggunakan minyak tanah atau kerosene pada awal tahun 1970 untuk mengganti bahan bakar rumah tangga waktu itu dari kayu bakar. Penggunaan kayu bakar sebagai bahan bakar memasak masih umum digunakan masyarakat kala itu terutama di pedesaan, khawatir akan kerusakan alam dan akibat penebangan kayu secara berlebihan maka pemerintah kala itu mendorong masyarakat untuk beralih menggunakan minyak tanah dimana harganya akan disubsidi pemerintah mulai dari lifting, produksi, penyulingan, dan distribusi akan ditanggung oleh pemerintah mengingat harga minyak dunia tahun 1970 sempat mencapai 13 USD/barrel akibat krisis politik di Timur Tengah menyusul embargo Arab Saudi terhadap Amerika Serikat yang membantu Israel dalam perang Yom Kippur. Untuk mendukung program ini pemerintah membangun kilang penyulingan minyak di Palembang, Cilacap, Balikpapan, dan Sorong.

Seiring perkembangan maka dengan sosialisasi dan kemudahan penggunaan minyak tanah yang disubsidi oleh pemerintah maka masyarakat beralih pada minyak tanah begitu pula mulai munculnya industri otomotif di Indonesia pada tahun 1980 maka penggunaan gasoline (premium) dan solar diesel juga meningkat. Pemerintah pada saat itu juga memberi subsidi pada jenis bahan bakar minyak kendaraan bermotor untuk meningkatkan produktivitas dunia industri dan pertanian guna mencapai pertumbuhan ekonomi melalui Repelita.

Namun seiring dengan itu sejak awal tahun 1990 produksi minyak Indonesia mulai mengalami penurunan secara alami karena kondisi sumur yang sudah tua dan reserve atau cadangan yang mulai menipis. Padahal pengguna kendaraan bermotor semakin tahun juga semakin bertambah akibat pertambahan jalan beraspal selama pembangunan maka dapat dipastikan kebutuhan akan minyak bumi akan semakin meningkat. Tidak adanya eksplorasi baru di Indonesia mengakibatkan laju produksi minyak saat ini hanya mencapai 900.000 barrel/hari berbeda jauh saat masa jaya perminyakan Indonesia pada tahun 1970 yang mencapai 1,5 juta barrel/hari. Konsumsi minyak mentah sendiri saat ini sudah mencapai 1,3 juta barrel/hari. Sehingga dibutuhkan impor dari negara lain dengan menggunakan besaran harga internasional.

Penetapan harga penjualan publik BBM di Indonesia dilakukan dengan metode penetapan Mid Oil Plat’s Singapore (MOPS) yaitu harga minyak rata-rata secara flat dari Singapura. Perhitungan secara general atau simpel adalah seperti ini harga minyak berdasar MOPS+besaran alpha (biaya refinery,distribusi,loss product)+biaya pajak. Secara asumsi kasar bisa digambarkan di bawah ini:

Misal harga minyak mentah dunia per 27 Maret 2012= USD 130/barrel

harga MOPS per tri semester 2012= USD 138/barrel

besaran alpha ditetapkan 10% dari harga MOPS

pajak ditetapkan 15% dari jumlah MOPS dan alpha

1 USD= Rp 9500,- per trimester 2012

1 barrel=158,8457 liter atau dibulatkan 159 liter

harga minyak mentah di Indonesia: USD 138+(138*0,1)= USD 151,8/barrel

jika dirupiahkan: USD 151,8*Rp 9500=Rp 1.442.100,-/barrel

jika dikonversi ke liter: Rp 1.442.100/159=Rp 9069,8113/liter atau dibulatkan Rp 9070,-/liter

Konsumsi BBM jenis premium atau RON (Research Octane Number) 88 di Indonesia adalah 26 juta kiloliter per tahun atau 71232,8767 kiloliter/hari sedangkan produksi minyak nasional adalah 900.000 barrel/hari atau 143.100.000 liter/hari atau 143100 kiloliter/hari. Walau terlihat surplus daripada total konsumsi, jumlah 143100 kiloliter/hari adalah jumlah minyak mentah bukan jumlah premium. Untuk itulah dilakukan penyulingan supaya minyak mentah tersebut bisa diolah menjadi premium siap pakai, umumnya untuk minyak bumi dari Indonesia mampu menghasilkan 10-20% gasoline atau premium dari hasil penyulingan minyak mentah hampir sama dengan minyak mentah dari Arab Saudi (data bisa dilihat disini). Jadi dari 143100 kiloliter/hari tadi maksimal hanya 28620 kiloliter/hari saja yang bisa dijadikan premium.

Oleh karena itu terdapat defisit sebesar: 71232,8767-28620= 42612,8767 kiloliter/hari. Jumlah defisit inilah yang harus diimpor dari negara lain menggunakan dana APBN selain itu dana subsidi juga dipakai untuk mencapai harga jual pokok sebesar Rp 4500,-/liter dari harga produksi murni sebesar Rp. 9070,-/liter.

Dengan demikian akan nampak bahwa dana yang dibutuhkan cukup besar untuk memenuhi konsumsi bahan bakar minyak jenis premium di Indonesia selama rentang waktu satu tahun masa anggaran baik untuk mengimpor minyak maupun mensubsidi harga pokok penjualan di masyarakat. Ada baiknya sebelum pemerintah memangkas dana subsidi sebaiknya juga melakukan efisiensi anggaran belanja lain sehingga dana yang terkumpul dari efisiensi anggaran belanja negara bisa digunakan untuk mencapai harga keekonomian bahan bakar minyak. Harga keekonomian minyak ini bukan berarti subsidi melainkan kompensasi berupa perbaikan jalan, penyediaan transportasi publik yang nyaman dan ramah lingkungan, pengembangan sumber energi terbarukan, pembangunan infrastruktur untuk sumber energi alternatif seperti CNG atau LGV. Dengan demikian masyarakat juga akan belajar bagaimana menggunakan bahan bakar secara bijaksana dan efektif bukan terus berpikir bahwa Indonesia masih punya minyak dan jika habis bisa impor. Dana subsidi juga bisa disalurkan dalam bentuk penyediaan pendidikan dan kesehatan murah, dengan catatan bahwa penyalahgunaan dana anggaran negara bisa diminimalisasi.

http://ekonomi.kompasiana.com/moneter/2012/03/28/mari-menghitung-harga-bahan-bakar-minyak-secara-sederhana-450392.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s