Sinetron Kampungan Kisruh PSSI


 oleh  Fajar Anugrah Putra

PSSI memang seksi. Induk olahraga sepak bola ini mampu menarik minat pensiunan jenderal, pengusaha, serta politisi untuk berebut menguasainya. Keseksian itu muncul dari kepopuleran sepak bola di Indonesia.

Liga sepak bola profesional yang dikelola PSSI punya potensi menghasilkan puluhan sampai ratusan miliar setiap tahun. Dan PSSI pun berguna sebagai alat kampanye politik bagi penguasa tiap kali ada keberhasilan prestasi atau sukses pembinaan.

Selama 2010, PSSI era Nurdin Halid-Nirwan Bakrie dilanda kekisruhan — dituding sarat korupsi, manipulasi, dan kebusukan lainnya. Kegagalan Indonesia di ajang AFF Suzuki Cup pada Desember 2010 membuat kekecewaan semakin memuncak.

Ketika itu, liga sepak bola yang diakui PSSI hanyalah Liga Super Indonesia, yang dikelola oleh orang-orang yang berafiliasi ke grup usaha Bakrie. Maka ketika muncul liga tandingan, Liga Primer Indonesia, tentu saja Nurdin-Nirwan berang dan menyebut liga baru ini liga antarkampung alias tarkam.

Semua pemain, pelatih, ofisial sampai wasit diancam kena sanksi mulai dicabut sertifikat profesi, tidak boleh bergabung ke tim nasional sampai larangan aktif di sepak bola nasional seumur hidup.

Sejarah menentukan lain. Pertengahan 2011, Nurdin-Nirwan terjungkal dan kekuasaan bergulir kepada Djohar Arifin Husin dan Farid Rahma. Mereka menjanjikan perubahan dan perbaikan di PSSI dan sepak bola Indonesia.

Dan memang terbukti berubah. Pelatih Alfred Riedl dipecat. Para pengurus lama yang “berbau Bakrie” didepak. Laga baru dibentuk: Liga Prima Indonesia. Format liga berubah-ubah, dari awalnya dua wilayah, Timur dan Barat, menjadi satu wilayah atau sistem kompetisi penuh.

Peserta awalnya akan diikuti oleh 18 klub dengan Persipura sebagai juara bertahan. Tetapi kemudian berubah jadi 20 klub — kemudian bertambah lagi hingga 24 klub. Pengelola liga ini diketahui dekat dengan pengusaha Arifin Panigoro.

Klub-klub yang musim lalu tidak berlaga di Liga Super boleh menjadi peserta Liga Prima karena faktor tradisi prestasi dan dukungan fans. Ini membuat geram banyak klub yang sedari awal mandi keringat plus banting tulang di Liga Super. Bahkan beberapa anggota Komite Eksekutif PSSI, salah satu fungsi penting organisasi, menentang keras keputusan keikutsertaan 24 klub itu.

PSSI tutup telinga dan jalan terus dengan keputusannya.

Sementara itu, mereka yang protes keikutsertaan 24 klub tak kehabisan akal. Mereka menghidupkan kembali Liga Super. Sederet klub ternama yang punya catatan prestasi dan basis dukungan suporter ikut pun ikut serta. Contohnya Persija, Persipura, Sriwijaya FC, Persib dan PSMS.

Dampaknya langsung terasa. Liga Prima, yang tadinya diikuti 24 klub, kini semakin tercecer dengan hanya 13 klub!

Djohar Arifin dan Farid Rahman tak tinggal diam. Mereka menebar ancaman kepada klub-klub yang mengikuti Liga Super — kelakuan yang persis sama seperti yang dulu dilakukan Nurdin Halid kepada Liga Primer. Tak tanggung-tanggung, Persipura dicoret keikutsertaannya di AFC Cup.

Pertanyaannya, sampai kapan sinetron kampungan ini berlangsung?

PSSI dan para dedengkot klub bukannya memikirkan dan memperbaiki sistem pembinaan pemain muda, malah terus mengumbar permusuhan dan memupuk egoisme.

Anda para pelaku sepak bola nasional yang sudah bertahun malang-melintang dan menjadi bagian dari kekisruhan PSSI ini hendaknya sadar: Jutaan anak-anak Indonesia bermimpi menjadi juara di tingkat Asia Tenggara, Asia atau Dunia.

Jutaan anak-anak Indonesia bermimpi bisa bermain sebagai pemain profesional di Manchester United, Barcelona, Juventus atau Ajax Amsterdam.

Anak-anak Indonesia tidak butuh adu gengsi kalian yang senangnya selalu ribut, ribut dan ribut.

Untuk mencari lapangan sepak bola yang baik saja sangat sulit di negeri ini, bagaimana anak-anak Indonesia bisa menjadi juara?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s