Tertidur 30 Kali Sehari, Bocah Ini Tersiksa


“Dia bahkan bisa jatuh tertidur saat sedang asyik makan.”

Pipiet Tri Noorastuti, Lutfi Dwi Puji Astuti

Sade Biggs dan ibunya (dailymail.com)

VIVAnews – Sade Biggs, gadis delapan tahun asal Inggris ini, harus kehilangan masa indah bersama teman-teman seusianya. Sebagian besar waktunya ia habiskan di ranjang. Penyakit gangguan pola tidur membuatnya terlelap hingga 30 kali sehari.

Seperti dikutip dari laman Daily Mail, Sade menderita narkolepsi, penyakit serangan tidur dalam kadar cukup ekstrim. Penderita umumnya sulit mempertahankan keadaan sadar. Penyakit ini menyerang sedikitnya 500 warga Inggris. Belum ada obat bisa menyembuhkannya.

Selain rasa kantuk tak tertahankan sepanjang hari, penyakit ini juga ditandai dengan katapleksi. Gejala ini berupa melemasnya otot secara mendadak, seperti lumpuh sesaat pada beberapa bagian otot atau keseluruhan otot tubuh.

Akibat kondisi itu, Sade tak bisa bebas bermain layaknya anak-anak seusianya. Bahkan, mengendarai sepeda pun bisa menjadi hal yang berbahaya, karena serangan kantung bisa muncul setiap saat tanpa terkontrol.

Sang ibu, Dana Thompson, 37, mengatakan, gejala narkolepsi muncul sejak Sade berusia dua tahun. “Kala itu, saya merasa ada yang tidak beres. Sade tidur sepanjang hari, dan berlanjut hingga malam tak bangun. Dia bahkan bisa jatuh tertidur saat sedang asyik makan,” kata Dana.

“Pernah suatu ketika, dia naik sepeda di belakang saya, dan ketika saya menoleh ke belakang, Sade sudah jatuh dan tertidur di tanah. Saya benar-benar takut,” Dana menambahkan.

Sade tidur dengan interval waktu yang acak. Tak jarang, ia tidur sepanjang hari dan sepanjang malam, hingga kehilangan kendali tubuhnya. “Saya suka tidur, tapi hal ini membuat saya sulit untuk melakukan aktivitas,” kata gadis yang selama tiga tahun terakhir menjalani serangkaian terapi dan pengobatan di sebuah rumah sakit di London.

Siksaan juga menyergap dalam setiap tidurnya. Sade kerap mengalami mimpi buruk, yang  merupakan gejala umum penyakit ini. “Aku melihat kerangka dan penyihir, rasanya seperti mereka benar-benar ada,” katanya.

Dr Parviz Habibi, seorang konsultan pediatrik di Imperial College Healthcare, mengatakan, “Banyak anak-anak dengan narkolepsi menjadi sangat pemarah dan memiliki masalah perilaku lainnya, termasuk hiperaktivitas, juga masalah perhatian dan belajar.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s