Beraneka Jenis Sate, Peluang Usaha Menggoda Prospek Menarik


Sate adalah jenis makanan yang banyak digemari masyarakat Indonesia. Berbagai jenis sate, mulai dari sate ayam, kambing, sapi dan jenis lain dikenal luas dengan beragam variasi bumbu dan bentuknya.
Jika Anda ingin menjajal usaha sate dan tak mau repot membangun dari awal, mungkin bisa melirik tawaran kemitraan Sate Kenanga asal Banjar, Jawa Barat. Memang, Sate Kenanga merupakan sate khas Banjar. Rohani, pemilik Sate Kenanga, baru mulai menawarkan kemitraan usaha ini sejak Maret 2010.

Untuk menjadi mitra Sate Kenanga, nilai investasi awal yang dibutuhkan sebesar Rp 15 juta. Dengan investasi sebesar itu, mitra akan memperoleh peralatan dan perlengkapan berdagang yang lengkap, seperti, angkringan sate, panggangan dan bahan baku awal sebanyak 1.000 tusuk sate.

Nilai investasi itu sudah termasuk royalty fee selama lima tahun. Setelah batas waktu berakhir, mitra wajib membayar Rp 1 juta sebagai uang pembaharuan perjanjian untuk lima tahun berikutnya.

Sejak membuka tawaran kemitraan enam bulan lalu hingga kini, Sate Kenanga masih sepi peminat. Usaha ini baru memiliki dua gerai di Banjar, yang merupakan milik Rohani sendiri. Satu gerainya bisa meraup omzet sekitar Rp 7,2 juta per bulan.

Rohani optimistis bakal segera mendapatkan mitra yang serius, baik dari dalam maupun luar Banjar. Saat ini, ia sedang bernegosiasi dengan beberapa calon mitra yang tertarik membuka gerai baru.

Nantinya, Rohani akan membebaskan mitra untuk menjual produk sate, selain sate ayam. “Inovasi dan kreasi dari mitra sangat diperlukan guna memajukan bisnis ini,” katanya.

Tapi, inovasi menu hanya diperbolehkan dalam lingkup bahan daging sate. Seperti sate kambing, kelinci, ikan, dan lainnya. Jadi, mitra tidak dibolehkan menjual menu selain jenis sate. Dia khawatir, jika ada produk selain sate, akan menggeser citra Sate Kenanga.

Adapun untuk harga jual, Rohani menyerahkan sepenuhnya pada mitra. Sebab, lokasi sangat menentukan harga jual. Yang jelas, rentang harganya antara Rp 8.000 hingga Rp 15.000 per porsi sate. Rohani bilang, harga itu masih wajar karena berisi 10 tusuk sate, lengkap dengan seporsi nasi atau lontong.

Ia mengatakan, penyesuaian harga dilakukan untuk memenuhi hitungan balik modal. “Maksimal 10 bulan bisa balik modal, bahkan saya harap lebih cepat,” ujarnya.

Atas tawaran kemitraan Sate Kenanga itu, konsultan bisnis Khoerusallim Ikhsan menilai, investasi yang ditawarkan sebesar Rp 15 juta cukup masuk akal. Apalagi, pemilik Sate Kenanga turut memasok peralatan dan perlengkapan berjualan, termasuk merek dan pasokan bahan baku sate.

Namun, Khoerusallim mengingatkan pada calon mitra Sate Kenanga agar memastikan kelanjutan pasokan bahan baku, terutama daging ayam. “Kalau didatangkan langsung dari pusat tidak ada jaminan daging masih segar atau tidak,” tanyanya. Untuk itu, ia menyarankan agar para mitra lebih baik membeli ayam sendiri sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan.

Selain itu, calon mitra perlu mempertimbangkan kekuatan merek dari Sate Kenanga. Apalagi, kemitraan sate sudah banyak yang beroperasi, khususnya di kota-kota besar, seperti Jakarta. “Merek daerah agak sulit dibawa ke kota besar. Sebaliknya, merek yang sudah top di kota mudah sekali dibawa ke pasar daerah,” cetusnya.

Sate Kenanga
Jl. Jadimulya No. 138 Banjar – Jawa Barat
Telp. 0265-745363
HP. 08164666674

Di jagad dunia franchise, mewaralabakan sate merupakan hal yang baru terjadi. Itulah yang dilakukan Listianto (52), dengan warungnya yang diberi nama Sate Lisidu. Upaya Listianto untuk mewaralabakan  Sate  Lisidu bukan tanpa pertimbangan. Setidaknya kini semakin banyak penggemar makanan sate, dari berbagai lapisan masyarakat,  lintas suku dan daerah, dan itu berarti bisnis yang ia tekuni layak diwaralabakan. Sejarah Sate Lisidu, lanjut Lis memang tidak datang tiba-tiba. Ada perjalanan panjang yang telah dilalui, dan menjadi kumpulan pengalaman bagaimana Sate Lisidu mendapatkan tempat di masyarakat. Bahkan telah memiliki pelanggan fanatik yang selalu mencari dan menikmati sajian sate ini.

Berbeda dengan Sate Madura yang terbuat dari daging kambing, yang selama ini dikenal masyarakat, atau Sate Padang, Sate Lisidu menyajikan citarasa sate ayam dengan rasa yang berbeda. “Kami konsisten menyajikan citarasa sate ayam yang prima, pas di lidah,” ujar pria kelahiran Solo ini.

Membanggakan

Sejak didirikan tahun 1997, Sate Lisidu telah mendapat kepercayaan untuk disajikan dalam perhelatan akbar kenegaraan di Istana Negara.  Setidaknya, sejak tahun 2005 hingga tahun 2007 Sate Lisidu menjadi hidangan bagi undangan yang menghadiri perayaan memperingati HUT RI di Istana Negara, Jakarta. “Tentu ini membanggakan buat kami, karena Sate Lisidu mendapat kepercayaan.   menjadi sajian makanan kenegaraan. Setidaknya rasa Sate Lisidu mewakili harapan panitia penyelenggara HUT RI,”cetusnya pria yang kini tinggal di Surabaya ini.

Kekhasan Sate Lisidu terletak pada pengolahan daging ayam menjadi sate ayam yang empuk, dan nikmat, serta memiliki bumbu-bumbu yang pas. “Pengolahan sate ayam memerlukan teknik khusus, sehingga baik aroma maupun rasanya akan lebih nikmat,” cetusnya. Selain memiliki usaha Sate Lisidu, yang kini ditawarkan kepada para investor yang ingin mengembangkan ke berbagai tempat, Listianto juga sedang mengembangkan Sate Ponorogo yang juga memiliki citarasa yang khas juga.

Upaya untuk mewaralabakan Sate Lisidu dan Sate Ponorogo, serta dalam waktu dekat juga diwaralabakan Restoran Sate Ayam Lisidu tidak terlepas dari tekad besar Listianto untuk memasyarakatkan Sate Ayam di Indonesia. “Kita yang harus memulai mewaralabakan sate ayam, jangan sampai suatu hari nanti justu orang-orang Malaysia atau Singapura yang mewaralakan,” ujar Listianto yang sering bergaya dengan pakaian ala Warok Ponorogo ini. Berminat menjadi mitra, silakan kontak di telepon 0811 111 1551 – 081 7300 589, (031) 50 22622, 6010 1551.

Makanan Tradisional yang  Potensial Diwaralabakan

Makanan tradisional yang beraneka ragam dengan citarasa yang tinggi, menurut Ketua Asosiasi Franchise Indonesia (AFI), Drs Anang Sukandar sebenarnya berpotensi untuk diwaralabakan. Seperti yang diungkapkan Anang kepada media massa, berbagai makanan tradisional yang berpotensi diwaralabakan tersebut antara lain makanan siap saji (donut, pizza, burger dan sosis), menu lengkap (RM. Indonesia, Ulam, bakar-bakaran, Java Kitchen dan sate house), RM. Etnik (RM. Minang, Sunda, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Manado, Tahu Pong dan Tahu Sumedang), RM. Soto (Soto Kudus, Madura, Betawi, Banjar, Nasi Rawon, Timlo, Pecel, Ayam Semarang dan Nasi Uduk) hingga pada fruit juice seperti es puter/cendol dan es krim tradisional, dan sebagainya.

Dibandingkan negara tetangga seperti Singapura, Thailand, Philipina dan Malaysia, Indonesia masih tertinggal sangat jauh dalam hal memberi dukungan kepada para pengusaha yang ingin mewaralabakan usahanya. (fn/kn/mh) www.suaramedia.com

2 thoughts on “Beraneka Jenis Sate, Peluang Usaha Menggoda Prospek Menarik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s