Jakarta Terancam Tenggelam?


Nusantara HK Mulkan
Seorang warga di Pluit, Jakarta Utara, mendorong barang rumah tangga miliknya saat air pasang 26 Oktober 2007 lalu.
(iPhA/Bayu Suta)

INNChannels, Jakarta � Dalam beberapa hari terakhir, sebagian wilayah Jakarta Utara terendam banjir akibat gelombang pasang air laut (rob). Bahkan, Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) memperkirakan potensi air laut masuk ke daratan akan terjadi hingga Rabu (12/12) dan berulang lagi pada 20 dan 25 Desember mendatang. Apa yang menjadi penyebab terendamnya sebagian kawasan Jakarta itu?

Hingga Selasa (11/12) pagi, air menggenangi wilayah Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara, sampai ketinggian sekitar 50 cm. Gelombang pasang itu memang terjadi akibat adanya perubahan iklim yang ekstrem. Namun di sisi lain, kesiapan pengelola negara untuk mengantisipasi dianggap sebagai salah satu penyebab tidak tuntasnya penanganan masalah ini. Sebab, berdasarkan data Dinas Pertambangan DKI Jakarta, permukaan tanah di Jakarta mengalami penurunan antara 2 meter hingga 5 meter antara 2002 hingga 2005, akibat eksploitasi air tanah yang berlebihan.

Eksploitasi air tanah ini, berdasarkan penelitian Kelompok Keahlian Geologi Terapan Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB pada 2007, menyebabkan terjadinya rongga yang berpotensi mengakibatkan turunnya permukaan tanah. Turunnya permukaan tanah ditambah naiknya permukaan air laut akibat efek pemanasan global, berpotensi menenggelamkan sebagian bahkan seluruh wilayah DKI Jakarta.

Pengambilan air tanah secara berlebihan, diyakini Kepala Dinas Pertambangan DKI Peni Susanti terjadi, karena PAM Jaya belum mampu memenuhi kebutuhan air warga ibu kota. Sehingga banyak warga menggunakan air sumur untuk kebutuhan sehari-harinya, dengan jumlah hingga 44 persen. Karena itu, kata Peni, pihaknya terus menggalakkan program menabung air dengan lebih gencar pembangunan sumur resapan serta revitalisasi waduk, dengan jumlah 112 sumur resapan hingga tahun ini. “Pembangunan waduk juga dapat menjadi tempat cadangan air, sehingga penurunan permukaan air tanah tidak terlalu drastis,” ujarnya.

Selain itu, Dinas Pertambangan DKI Jakarta juga tengah menggodok perda (peraturan daerah) mengenai penggunaan air tanah, yang diharapkan rampung tahun depan. Dengan adanya regulasi tersebut diharapkan penegakan hukum bagi pihak yang menggunakan air tanah secara berlebihan dapat ditindak.

Slamet Daryoni, Direktur Eksekutif Walhi Jakarta, sepakat dan mendukung ide penyusunan perda tersebut. Namun, semua itu harus diikuti dengan implementasi yang tegas dan konsisten. Karena berdasarkan pengalaman selama ini, menurutnya sangat jarang perda dapat dilaksanakan seperti di atas kertas. �Contohnya Perda No 2 Tahun 2005 mengenai pencemaran udara. Harusnya ada audit dan penegakan hukum lingkungan agar tidak mandul,� ujarnya kepada INNChannels, di Jakarta, Selasa (11/12).

Di sisi lain, Slamet menilai eksploitasi air tanah bukan satu-satunya penyebab terjadinya rob di Jakarta. Namun, lebih disebabkan ketidakmampuan Pemprov DKI Jakarta dalam mengelola Teluk Jakarta. Berdasarkan data yang dimilikinya, adanya konversi hutan bakau hingga 831 hektare yang dilakukan sejak 1984, kawasan hutan bakau yang tersisa kini hanya 170,60 hektare. �Sehingga ada 16 juta meter kubik air kehilangan tempat �parkir�-nya.�

Sisa hutan bakau yang ada itu pun, lanjut Slamet, kini terancam punah. Sebab, hanya 25,02 hektare kawasan itu yang dilindungi hukum dalam bentuk suaka margasatwa Muara Angke. �Adanya kebijakan reklamasi pantai utara sejak 1995 yang direalisasikan pada 2000, kawasan hutan bakau telah diincar para pengembang untuk dijadikan kawasan perumahan.�

Hal ini diperparah dengan jumlah situ dan waduk yang tidak berfungsi dengan baik. Dari 48 situ dan waduk yang ada di Jakarta, hanya 13 yang berfungsi menampung air. Sehingga, dengan kondisi minimnya hutan bakau dan lahan basah sebagai kawasan penyambung ekologi, maka Jakarta terancam tenggelam saat pasang gelombang laut terjadi nanti. Karena itu, Slamet meminta Pemprov DKI segera menghentikan reklamasi dan melakukan restorasi hutan bakau.

Berbeda dengan Slamet, Danisworo, pengamat perkotaan dari Pusat Studi Urban Desain, tidak percaya bahwa reklamasi pantai utara Jakarta menjadi biang keladi terjadinya banjir pasang air laut di Jakarta dalam beberapa hari terakhir. Rob yang terjadi akhir-akhir ini, menurut dia, memang fenomena alam yang terjadi akibat adanya perubahan iklim yang aneh belakangan ini. Ini bukan hanya terjadi di Indonesia.

�Ada teori yang mengatakan, reklamasi justru bisa menahan kecepatan air. Sehingga kecepatan air bisa diredam,� kata Danisworo kepada INNChannels. Danisworo kemudian memberi contoh reklamasi yang dilakukan sejumlah pengembang di kawasan Pluit dan Muara Karang, yang menurutnya, tidak menambah masalah saat banjir terjadi. Ini karena kawasan yang direklamasi di Teluk Jakarta jumlahnya tidak terlalu signifikan sebagai penyebab banjir.

Hanya saja, reklamasi yang dilakukan selama ini memang dinilainya belum dilakukan dengan teknologi yang baik.

Lepas dari pro-kontra penyebab banjir pasang air laut yang terjadi itu, kini masyarakat di sejumlah kawasan di Jakarta Utara telah menjadi korban. Rumah mereka terendam, sementara Pemprov DKI Jakarta yang sebelumnya menjanjikan akan membangun tanggul di Muara Baru pada awal 2008 justru kembali mementahkannya.

“Itu memang bukan solusinya, dana juga tidak ada. Mengerjakan juga tidak cukup waktunya,” kata Gubernur Fauzi Bowo, Senin (10/12).

Gubernur telah berganti, namun pekerjaan rumah pencegahan banjir tidak pernah terselesaikan. Semua baru terhenyak saat bencana menimpa. Apakah kita harus menunggu hingga Jakarta tenggelam?

http://www.inilah.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s