Solusi Agar Awal Puasa Tak Lagi Berbeda


Perbedaan bukan dari metode hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (pengamatan).

Ismoko Widjaya

Buka Puasa Bersama di Istiqlal (VIVAnews/Tri Saputro)

VIVAnews – Perbedaan awal bulan Ramadan antara organisasi-organisasi Islam di Indonesia hampir terjadi setiap tahun.Tahun ini, misalnya, Muhammadiyah menetapkan awal puasa pada 11 Agustus. Sementara Nahdlatul Ulama baru akan melakukan rukyat 10 Agustus nanti.

Profesor riset dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) meyakini, hal itu terjadi bukan karena perbedaan metode hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (pengamatan), melainkan perbedaan kriteria.

“Perbedaan hari raya yang sering terjadi belakangan ini lebih disebabkan penggunaan kriteria yang tidak seragam,” tulis Profesor Riset Astronomi-Astrofisika Lapan, Thomas Djamaluddin, seperti dikutip VIVAnews dari blognya.

Menurut peneliti yang akrab disapa Djamal ini, para penganut hisab maupun rukyat pada dasarnya menggunakan kriteria penentuan awal bulan. Perbedaan itu terjadi saat hisab dan rukyat.

Di kalangan ormas penganut hisab ada perbedaan: Muhammadiyah menggunakan kriteria wujudul hilal (hilal wujud di atas ufuk) dengan prinsip wilayatul hukmi (wujud di sebagian wilayah diberlakukan untuk seluruh wilayah hukum di seluruh Indonesia). Sedangkan Persatuan Islam (Persis) menggunakan kriteria wujudul hilal di seluruh Indonesia (sebelumnya menggunakan kriteria imkanur rukyat 2o).

Di kalangan ormas penganut rukyat (terutama Nahdlatul Ulama, NU) kadang terjadi perbedaan ketika ada yang melaporkan hasil rukyat, padahal ketinggian hilal masih di bawah kriteria imkanur rukyat yang mereka gunakan, yaitu ketinggian hilal 2 derajat.

Ketika ketinggian hilal positif, tetapi kurang dari atau sekitar 2 derajat potensi terjadinya perbedaan hari raya sangat terbuka.

Maka hal utama yang harus diupayakan adalah memformulasikan kriteria tunggal yang dapat digunakan semua ormas Islam dan pemerintah, yang secara teknis dilakukan oleh Badan Hisab Rukyat Kementerian Agama.

“Untuk mendapatkan kriteria tunggal yang diharapkan menjadi rujukan bersama semua ormas Islam dan pemerintah (Kementerian Agama RI), perlu diusulkan kriteria yang dalam implementasinya tidak menyulitkan semua pihak,” tulis peneliti yang meraih gelar S2 dan S3 di Department of Astronomy, Kyoto University, Jepang, ini.

Djamaluddin menilai, kriteria berbasis beda tinggi bulan-matahari dan beda azimut bulan-matahari dianggap cocok karena telah dikenal oleh para pelaksana hisab rukyat dan sekaligus menggambarkan posisi bulan dan matahari pada saat rukyatul hilal. Tinggal yang harus dirumuskan adalah batasannya.

Dua aspek pokok yang harus dipertimbangkan adalah aspek fisik hilal dan aspek kontras latar depan di ufuk barat. Karena kriteria ini akan digunakan sebagai kriteria hisab-rukyat yang membantu menganalisis mungkin tidaknya hasil rukyat dan menjadi kriteria penentu masuknya awal bulan pada penentuan hisab, maka kriteria harus menggunakan batas bawah.

Djamal yang juga anggota badan hisab Kementerian Agama mengusulkan adanya “Kriteria Hisab-Rukyat Indonesia” sebagai kriteria tunggal hisab-rukyat di Indonesia. “Kriteria Hisab-Rukyat Indonesia” sebagai berikut:

1. Jarak sudut bulan-matahari > 6,4 derajat.
2. Beda tinggi bulan-matahari > 4 derajat.

Kriteria baru itu hanya merupakan penyempurnaan kriteria yang selama ini digunakan oleh Badan Hisab dan Rukyat serta ormas-ormas Islam untuk mendekatkan semua kriteria itu dengan fisis hisab dan rukyat hilal menurut kajian astronomi.

Dengan demikian aspek rukyat maupun hisab mempunyai pijakan yang kuat, bukan sekadar rujukan dalil syar’i tetapi juga interpretasi operasionalnya berdasarkan sains-astronomi yang bisa diterima bersama.

Kendati demikian, untuk saat ini segala perbedaan sebaiknya tetap merujuk pada keputusan sidang itsbat dari Kementerian Agama. “Sidang itsbat itu telah mengakomodasi berbagai masukan dan pertimbangan,” kata Djamaluddin kepada VIVAnews lewat pesan pendeknya. (umi)

• VIVAnews

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s