Keripik Aneka Buah Untungnya 10%


Karena terbilang baru, penerimaan pasar domestik terhadap keripik buah masih minim. Pasalnya selain harga jualnya masih relatif mahal, juga masyarakat masih jarang mengetahui adanya keripik buah. Namun sebagai produsen keripik buah, Ikhsan Setianto, Direktur CV. Nur Setia Abadi (NSA) mengungkapkan, snack buah-buahan ini memiliki potensi besar untuk pasar ekspor. Tentu saja, banyak persyaratan yang harus dipenuhi untuk bisa tembus pasar internasional. Bagaimana peluang bisnis keripik buah ini?Sejak tahun 2004 Ikhsan Setianto merintis usahanya mengembangkan keripik buah. Saat itu ia tengah mengalami PHK dari sebuah perusahaan di bidang consumer goods. Dari hasil pesangon sebesar Rp 30 juta, ia mulai merintis bisnis keripik buah setelah sebelumnya sempat melihat banyak buah salak yang terbuang percuma di kebun milik keluarga istrinya.Ikhsan Setianto mengakui sudah banyak buyer dari luar negeri, antara lain Hongkong, Taiwan, Bangladesh dan India yang ingin membeli keripik aneka buah produknya. Diantaranya keripik salak, nangka, nanas & apel. Barangkali ini merupakan potensi bisnis yang menjanjikan. Dari segi bahan baku, jelas buah-buahan sangat melimpah di Indonesia. Bahkan di saat musim panen, harga buah langsung anjlok, karena tidak mampu diserap oleh pasar. Namun seperti kebanyakan UKM, ternyata produk keripik buah milik Ikhsan belum mampu memenuhi kualifikasi permintaan buyer luar negeri. Akhirnya, Ikhsan pun belum mampu menggarap pasar ekspor.“Pemasaran di internet sebenarnya bagus, dan banyak sekali permintaan ekspor keluar negeri. Tapi persyaratan mereka itu agak sulit terutama dari legalitas, dokumentasi kesehatan dari Depkes, dan sertifikat untuk produk. Kita sudah ada ijin dari Depkes, tapi buyer minta untuk sertifikasi resmi misalnya produk itu benar-benar higienis,” ungkap Ikhsan.Kendala lainnya, terletak pada pengemasan. Buyer international meminta pengemasan harus sudah rapi, dengan bahan dari alumunium foil lengkap dengan brand dan desainnya, dan beratnya per satu kemasan 50 gram.Jika permintaan pasar ekspor bisa dipenuhi, menurut Ikhsan buyer pasti akan order dalam jumlah besar. Padahal untuk memenuhi permintaan ini, dibutuhkan modal cukup besar. Sebagai salah satu UKM, CV. NSA sulit untuk memenuhi permintaan ini, dikarenakan kendala klasik, yaitu keterbatasan modal. Asal tahu saja, buyer biasanya akan meminta order dalam jumlah besar. Dan untuk memenuhi 1 kontainer, bisa membutuhkan modal Rp 200 – 300 juta. Tentu saja bagi UKM, menanggung modal sebesar itu cukup berat. “Akhirnya ya sudah saya jalin komunikasi saja sementara. Meski sebenarnya potensinya bagus untuk pasar ke luar negeri,” papar Ikhsan.Kendala Produk dan Pasar LokalUntuk pasokan bahan baku, Ikhsan mengaku tidak mengalami kesulitan. Untuk pasokan buah salak ia dapatkan dari kebun salak milik keluarga istri di Yogyakarta, serta mengambil dari pengepul salak pondoh di Yogyakarta. Sementara untuk pasokan buah nangka, nanas dan apel ia dapatkan dari pengepul buah di Malang. Untuk produksi, Ikhsan dibantu 5 orang karyawan guna memproduksi keripik salak di Yogyakarta dan 5 orang memproduksi keripik nangka, nanas dan apel di Malang. Untuk pengelolaannya, Ikhsan melibatkan saudara, teman dan tetangga sekitar lokasi produksi. Dalam 1 bulan, rata-rata kapasitas produksi keripik buahnya 30 – 40 kg.Sementara untuk pemasaran di Jakarta ia dibantu oleh sekitar 4 orang karyawan. Jadi total pagawai 14 orang. Distribusinya juga belum jauh, karena pemasaran di Jakarta baru berjalan 1 tahun ini.Meski tidak kesulitan dalam hal pasokan bahan baku, Ikhsan menjelaskan kendalanya lebih kepada biaya produksi keripik buahnya. Pertama, karena biaya produksinya mahal mengakibatkan harga jualnya menjadi mahal. Harga penjualan keripik buah masih berkisar Rp 7.000 per 50 gram-nya. Ditambah sifat keripik yang cepet melempem (tidak renyah lagi) jika lama berinteraksi dengan udara, serta masyarakat lokal belum banyak yang mengenal keripik buah ini. Untuk membuat keripik buah ini tahan lama, maka harus dikemas dengan alumunium foil yang tahan sampai 1 tahun, namun jika hanya dikemas dalam plastik biasa, keripik hanya bisa tahan selama 6 bulan.“Bisa dikatakan produk ini belum bisa memasyarakat dengan baik. Sebenarnya ide kita ingin memberikan banyak sampling produk sehingga produk ini bisa berkembang dan semua masyarakat tahu. Kembali kendala ke internalnya. Pemberian sampling biasanya diberikan ke toko, dengan sistem konsinyasi. Bisa dibilang toko tanpa resiko, jadi ditaruh disitu, ditaruh sampelnya dan pengelola toKO dipersilahkan untuk mencoba sampelnya. Tapi itupun biasanya nggak lama, karena karakter produk ini tidak bertahan lama jika terkena udara. Samplingnya paling berkala, kalau ada permintaan baru diberikan,” ungkap Ikhsan.PemasaranHingga saat ini, Ikhsan mengatakan omzet dari usaha keripik aneka buah produksinya, masih berkisar Rp 4 juta per bulan atau kapasitas 30 kg keripik. Dengan keuntungan bersih menurut pengakuan Ikhsan hanya 10% dari omzet. Sebelum memasarkan ke toko-toko, Ikhsan memasarkan keripik buah melalui koperasi instansi BUMN seperti diantaranya, Koperasi Karyawan Kantor Pertamina Pusat – Jakarta Pusat, Koperasi Karyawan Kantor Departemen Keuangan – Jakarta Pusat, Koperasi Karyawan Kantor AUTO 2000 – Jakarta Utara, Koperasi Karyawan LTO Dirjen Pajak – Jakarta Pusat dan Koperasi Karyawan Kantor Catatan Sipil – Jakarta Barat.“Rencana ke depan, saya ingin masuk ke supermarket-supermarket besar. UKM kendalanya masih terbentur di masalah dana. Itu klasik. Untuk masuk ke supermarket besar kita harus bayar listing fee, istilahnya uang pendaftaran produk. Jadi setiap produk yang masuk per item biayanya mencapai Rp 2,5 juta,” pungkasnya.

Ikhsan Setianto
Direktur CV. Nur Setia Abadi – Fruit Chips ManufacturerFruit Chip, Your Alternate Choice Of ChipWebsite : http://indonetwork.co.id/cv_nur_setia_abadi ; http://nur-setia-abadi.blogspot.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s