Mengangkat Derajat Limbah Ulat


Jangan buang kokon jelek dari ulat sutera. Kumpulkan, bersihkan dan kreasikan menjadi karya seni seperti yang dilakukan Pipit dan Siti . Fisamawati
Industri persutraan merupakan salah satu subsektor agroindustri yang sangat potensial untuk dikembangkan karena memiliki berbagai keunggulan. Banyak negara penghasil sutera terbesar seperti Cina dan India mampu menguasai pasar sutera di dunia karena melakukan pengembangan dan penelitian dengan melibatkan pihak akademis untuk mendapatkan hasil yang lebih optimal. Bahkan negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris, Jerman dan Australia melakukan penelitian dan pengembangan juga.
Di Indonesia sendiri, pengembangan budidaya ulat sutera ternyata belum dilirik oleh banyak pihak. Terbukti petani kepompong ulat sutera sampai saat ini masih kesulitan dalam pengembangannya. Padahal produk kokon lokal mampu memenuhi kebutuhan industri di dalam negeri. Selain menjadi benang, kokon dapat juga dijadikan kerajinan tangan seperti bunga, pigura, boneka kecil, dan gantungan kunci. Bahkan beberapa negara seperti Jepang dan Thailand telah mengenal kerajinan ini beberapa tahun yang silam, yang harga jualnya sangat tinggi dan pasar yang cukup bagus.
Kokon atau kepompong adalah hasil anyaman benang yang dieksresi larva kupu-kupu. Selama ini, para pengusaha benang sutera hanya menerima kokon dari ulat sutera yang diberi pakan daun murbai, itu pun terbatas hanya pada kokon berkualitas baik. Biasanya kokon berkualitas jelek itu dibakar karena dianggap sampah dan tidak laku dijual.Pipit dan Siti melihat peluang untuk memanfaatkan kokon yang dikategorikan limbah dan tidak dapat dipintal ini. Mereka membuat aneka kreasi nan mungil. “Kokon tersebut biasanya berwarna hitam akibat ulat sudah mati dan berjamur. Untuk mengolahnya menjadi kerajinan mungil, bahan kokon tersebut dibersihkan. Sedangkan, untuk menambah kreasi warna ditambahkan pewarna tekstil,” ungkap Pipit.Pemilik nama lengkap Pipit Robi’atul ‘Adawiyah menceritakan ketertarikannya untuk membuat kerajinan berbahan kokon. Usaha tersebut bermula tahun 2006 lalu dari kegiatan pelatihan wiraswasta di Institut Pertanian Bogor (IPB). “Pelatihan selama tiga bulan tersebut, awalnya memang diajarkan mengenai pembudidayaan ulat sutera. Bahkan, tidak diajarkan usaha mengelola limbah kokon. Tapi, saya melihat limbah kokon bisa difungsikan dan memiliki nilai tambah,” terangnya.
Keinginan menjadikan kokon yang semula tidak bernilai menjadi bernilai bahkan berkarya seni tinggi ini melibatkan kakak ketiganya- Siti Suroyah. Keduanya mampu memproduksi sebanyak 10 jenis kreasi selama dua jam pengerjaannya. Meski dilakukan di tengah-tengah kesibukannya sebagai pengajar TK di Depok, Pipit optimis usaha yang ditekuninya mampu merambah pasar sejenis. “Kelebihannya adalah keunikan bahan dasar kepompong ulat sutra tersebut,” aku perempuan kelahiran 9 September 1980. Siti pun menambahkan, umumnya orang-orang belum mengetahui bentuk kepompong ulat sutera yang aslinya. Bahkan ada yang bertanya dengan heran, apakah limbah kepompong bisa dijadikan sebuah kerajinan tangan. Namun, dengan keuletan duet kakak beradik ini, kerajianan mungil tersebut dapat diperoleh di beberapa pusat perbelanjaan di Jakarta dan beberapa toko kerajinan.“Tetapi kami juga menjual di beberapa sekolah, dengan menjual kreasi tersebut ke anak-anak mampu menaikkan jumlah barang yang dijual. Biasanya anak kecil lebih tertarik dengan bentuknya. Umumnya, jenis item yang laku di sekolah adalah pensil dan gantungan kunci,” cerita Siti.
Untuk saat ini, produk kreasi mereka pun dapat dipesan untuk beberapa keperluan. Ini untuk memasarkan dan mengembangkan kreasi sehingga tak hanya terjual dalam bentuk satuan. “Sekarang ada yang pesan untuk souvenir-souvenir perayaan ulang tahun anak-anak. Bahkan, bisa juga untuk souvenir pernikahan seperti bross atau gantungan kunci. Terkadang kami juga kewalahan jika ada pesanan dalam jumlah banyak,” promosi Pipit.Harga yang dibandrol mereka pun cukup terjangkau, untuk pensil dipasang harga Rp 3000 sampai Rp 5000, bross seharga Rp 5000 sampai Rp 10.000, dan untuk bunga seharga Rp 15.000 per tangkainya. Mereka pun menambah kreasinya dengan membuat kotak serba guna, pembatas buku, serta bingkai foto.“Ide bentuk dan warna merupakan perpaduan dari keinginan sendiri ditambah referensi dari beberapa item yang ada. Kami sering jalan-jalan ke pusat kerajinan dan mal untuk menambah kualitas agar tidak monoton. Kemudian, kami lihat bentuk seperti apa yang sedang laku di pasaran. Ini dilakukan untuk mengikuti perkembangan produk yang sedang booming di masyarakat,” terang Siti.
Usaha yang terletak di Jalan Rasamala VII Menteng Dalam, Tebet ini awalnya mengeluarkan modal sekitar Rp 300.000. Pipit pun berencana untuk memasarkan kreasinya hingga pelosok kota. Pameran-pameran kerajinan pun sering diikutinya. “Memang kami masih terkendala dengan pemasaran yang dilakukan. Ditambah dengan sedikitnya waktu yang tersedia dengan padatnya aktifitas sehari-hari,” aku Siti yang berstatus sebagai ibu rumah tangga ini.
Pipit pun melanjutkan, faktor kendala yang sering dihadapi adalah permodalan. Karena, dengan sifat usaha yang baru berjalan kurang lebih 3 bulan ini, menggunakan cara perputaran uang yang dihasilkan untuk membeli bahan baku kembali. “Yang penting balik modal dulu untuk kelancaran usaha,” ujar Pipit.Lalu bagaimana dengan bahan baku kokonnya? “Selama ini kami tidak kesulitan untuk mendapatkan kokon. Bahan baku ini didapat langsung dari IPB dengan harga yang relatif terjangkau. Kokon sendiri, panen setiap tanggal 18 per bulannya. Jadi, kami tidak takut kokon akan habis,” lanjut Pipit lulusan Universitas Padjajaran Bandung Jurusan Biologi ini.Ia pun mengatakan, untuk harga kokon basah cukup dengan mengeluarkan uang sebesar Rp 50.000hingga Rp. 75.000. Kemudian dari kokon basah tersebut digunting dan dibersihkan untuk mengeluarkan pupa ulat sutera di dalamnya. Setelah itu, kokon dikeringkan dengan cara dimasukkan ke oven khusus atau dijemur di terik matahari selama 3 hari. Berminat?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s