Info Seputar Kakbah


Drs. H. Abd. Salam, S.H., M.Hum
Selama kurang lebih 375 tahun sejakmengalami renovasi total pada 1040 H(Sultan Murad Al-Utsmani), Kakbah dihadapkan pada berbagai iklim dan cuaca. Pada tahun 1417 H, Raja Fadh ibn Abdul Aziz memerintahkan untuk merenovasinya kembali secara total, meliputi: penguatan pondasi, pembetulan kran dan saluran-saluran air, memplitur dinding luar, menambal lubang-lubang, dan mengganti atap. Perusahaan Bin Laden yang mendapat tender menangani semua pekerjaan tersebut.
Hajar Aswad
Hajar Aswad ialah batu yang tertanam di pojok selatan Kakbah pada ketinggian kurang lebih 1,10 meter dari tanah, panjang 25 cm dan lebarnya sekitar 17 cm. Awalnya merupakan satu bongkah batu saja, tetapi sekarang berkeping-keping menjadi delapan gugus batu kecil-kecil karena pernah pecah. Hal ini terjadi pada zaman Qaramithah, yaitu sekte dari Syi’ah Islailiyyah Al-Bathiniyyah dari pengikut Abu Thahir Al-Qaramithah, yang mencabut Hajar Aswad dan membawanya ke Isha’ pada tahun 319 H, tetapi kemudian dikembalikan lagi pada 339 H. Gugusan yang terbesar seukuran satu buah kurma dan tertanam di batu besar lain yang dikelilingi oleh ikatan perak. Inilah batu yang kita dianjurkan untuk mencium dan menyalaminya, bukan batu di sekitarnya.
Lingkaran Perak
Adalah Abdullah ibn Zubair yang pertama kali membuat sabuk lingkaran Hajar Aswad dengan perak. Kemudian, diikuti oleh penerus-penerusnya dengan cara memperbaruinya jika dipandang perlu. Misalnya, seperti yang terjadi pada bulan Sya’ban 1375 H (1955 M), Raja Sa’ud ibn Abdul Aziz melapisinya dengan perak baru. Renovasi secara menyeluruh baru pada masa Raja Fadh ibn Abdul Aziz pada 1422 H.
Multazam
Multazam terletak di antara Hajar Aswad dan pintu Kakbah. Jaraknya sekitar 2 meter. Ditambahkan oleh Ibn Abbas, bahwa Multazam ialah antara rukun (Hajar Aswad) dan pintu (Kakbah). Demikian pula penegasan Mujtahid, yaitu “Bahwa antara rukun (Hajar) dan pintu (Kakbah) ialah multazam.” Berdoa di multazam sebagai suatu yang disyariatkan dan diyakini oleh umat Islam sebagai tempat mustajab. Demikian juga, riwayat Abdullah ibn Umar, setelah beliau thawaf lalu shalat dan mencium Hajar Aswad, kemudian di antara Hajar Aswad dan pintu Kakbah menempelkan dada, kedua tangan dan pipinya, sambil berkata: “Seperti inilah aku melihat Rasulullah melakukannya.”
Hijir Ismail (Al-Hatim)
Hijir Ismail yaitu bangunan terbuka yang membentuk setengah lingkaran, berada pada sisi utara Kakbah. Pada mulanya, Hijir Ismail membentuk lingkaran utuh. Akan tetapi, pada saat renovasi zaman Quraisy, separoh lingkarannya terpotong. Atas dasar ini, Hijir Ismail juga dinamakan “Al-Hatim” (yang terpotong).
Atap dan Talang Air
Talang air terletak di atas Kakbah, tepat di atas Hijir Ismail. Talang ini dibuat untuk memperlancar peredaran air ketika proses pencucian maupun ketika hujan. Kaum Quraisy yang pertama kali membuatnya, bersama dengan dibangunnya atap Kakbah, karena masa sebelumnya tidak beratap.Permukaan atap Kakbah dilapisi dengan marmer putih dan dikelilingi pagar tembok yang menyatu dengan dinding Kakbah setinggi 80 cm. Di atas pagar itu ditancapkan kayu-kayu kokoh untuk mengaitkan tali kiswah. Di permukaan atap terdapat pintu berukurang 1,27 X 1,04 cm. Tutupnya terbuat dari baja. Para petugas naik ke pintu melalui tangga-tangga guna memudahkan mereka dalam pencucian dan pembersihan Kakbah serta mengganti kiswah.Talang air dibuat mengitari atap menempel pada pangkal dinding pagar. Pada tahun 1273 H, talang tersebut diperbarui kembali oleh Sultan Abdul Majid Khan Al-Utsmani. Pada tahun 1417 H diperbarui oleh Raja Fadh ibn Abdul Aziz dengan ukuran yang tetap sesuai aslinya. Sementara, di bagian atasnya ditanam paku-paku kecil agar burung-burung tidak dapat hinggap di atasnya. Talang ini dilapisi dengan emas sehingga sering disebut “talang emas.”
Bagian dalam Kakbah
Dalam Kakbah terdapat tiga tiang utama terbuat dari kayu berdiameter 44 cm dengan jarak 2,35 meter berfungsi menyangga atap. Dari arah lurus pintu masuk terdapat mihrab. Tempat ini dibangun karena di situlah Nabi pernah melaksanakan shalat di dalam Kakbah. Di sebelah kanan Kakbah terdapat tangga menuju atap. Tangga tersebut mempunyai pintu berkunci. Pintu menuju tangga ini dikenal dengan “pintu taubat” (bab at-taubah) diselimuti dengan kiswah dan dinding-dinding di dalamnya dilapisi batu pualam dari marmer berwarna dihiasi kaligrafi. Atap Kakbah beserta sisi-sisi dindingnya juga ditutupi dengan kiswah dari sutra hijau bertuliskan kalimat tauhid, kemudian surat Ali Imran 96, Al-Baqarah 144, lalu disambung dengan kalimah-kalimah “Ya Hannan,” “Ya Mannan,” dan “Ya Dzal Jalali wal Ikram.”
Pintu Kakbah
Ketika pertama kali dibangun kembali oleh Ibrahim, Kakbah memiliki dua pintu yang menyentuh tanah, berupa lubang yang tidak ada tutupnya, sebagai tempat keluar masuk. Pintu timur digunakan untuk masuk dan pintu barat untuk keluar. Pada masa Raja As’ad Tubba III, seorang raja dari Yaman, dibuatkan daun pintu yang dapat dibuka dan ditutup. Ketika kaum Quraisy merenovasi kembali, mereka menutup pintu barat, sedangkan pintu timur ditinggikan dari permukaan dan daun pintunya dibuat dua.Perbaikan kedua pintu Kakbah tidak pernah berhenti sepanjang masa sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan. Pada tahun 1398, raja Khalid bin Abdul Aziz pernah mengeluarkan instruksi untuk memperbarui pintu Kakbah. Perbaikan tersebut menelan biaya SR 13.420.000,- tidak termasuk lempengan plat terbuat dari emas murni seberat 280 kg. Proyek ini selesai tahun 1399 H. Struktur kerangka kedua pintu tersebut dibuat dari tumpuan kayu setebal 10 cm, plat emas dihiasi dengan kaligrafi dan ornamen Islam. Pembuatan keduanya memakan waktu setahun penuh (Qishash At-Tawsi’ah Al-Kubra h. 61).
Kunci dan Gembok Kakbah
Pada mulanya, kunci Ka’bah dipegang sendiri oleh Nabi Ismail, kemudian diwariskan kepada putranya, Tsabit, dan diteruskan kepada anak-anaknya. Lalu diberikan lagi kepada jurhum, paman-pamannya dari garis ibu, sebelum akhirnya sampai kepada Khuza’ah hingga sampai Qushai ibn Kilab, kakek Nabi saw.Setelah pembebasan kota Makkah (8 H), Nabi saw meminta kunci dari Utsman ibn Thalhah untuk membuka Kakbah, lalu beliau masuk ke dalamnya dan tidak lama kemudian keluar. Ketika keluar, Nabi saw bersabda, “Ingatlah, sesungguhnya setiap darah, harta, dan perbuatan sewenang-wenang seperti pada masa jahiliyah adalah di bawah tanganku untuk mengurusnya, kecuali pekerjaan memberi minum orang-orang yang sedang haji dan menjaga Kakbah. Sesungguhnya, aku menetapkan keduanya untuk dikembalikan kepada yang berhak sebagaimana berlaku pada masa jahiliyah.” Nabi saw lalu memanggil Ustman ibn Thalhah dan me-ngembalikan kunci kepadanya, “Ambillah ini wahai Bani Thalhah untuk selamanya, sehingga tidak ada yang merebutnya kecuali orang yang dlalim.”Setelah Utsman ibn Thalhah meninggal dunia, kunci tersebut diberikan kepada anak pamannya, Syaibah. Dari sinilah kemudian kunci Kakbah diwariskan secara turun-temurun.Panjang kunci gembok mencapai 40 cm. Gemboknya mengalami pergantian dua kali, yaitu pada tahun 1309 H dan 1399 H, mengikuti panjang gembok lama, yaitu 34 cm, dengan lebar pada setiap sisinya 6 cm. Pada setiap sisinya tertempel lempengan tembaga kuning berukuran 8 x 3 cm. Di atasnya tertulis “Shuni’a fi ‘ahd Khalid ibn Abdul Aziz Ali Su’ud sanah 1399 H”. anak kuncinya senantiasa disimpan dalam tas dari sutra yang dihiasi dengan emas murni. Dibuat oleh pabrik kiswah setiap tahunnya. Di atasnya tertulis surat An-Nisaa’: 58.
Tentang Kiswah Kakbah
Berdasarkan catatan sejarah, yang pertama kali memberi kiswah terhadap Kakbah adalah Nabi Ismail. Tetapi, terdapat pendapat jika yang memberi kiswah kepada Kakbah adalah As’ad Al-Humairi, penguasa negeri Yaman. Namun yang jelas, Nabi saw pernah memerintahkan untuk memberi kiswah kepada Kakbah sehingga kemudian diteruskan oleh para khalifah.Pasca kekuasaan dinasti Abbasiyah, kiswah didatangkan dari Mesir dan Yaman. Pada masa dinasti Usmani, raja Shalih Ismail Qalawun membuka tiga perkampungan baru khusus untuk keperluan pembuatan kiswah. Pada tahun 947 H, oleh pangeran Salim Khan Al-Utsmani, perkampungan tersebut diperluas menjadi tujuh perkampungan baru untuk maksud yang sama. Kemudian, Muhammad Ali Pasya membuka Kantor Pemerintah Khusus Urusan Kiswah. Demikianlah, setiap tahunnya, selama berabad-abad, Mesir membuat dan mengirim kiswah ke Makkah. Tetapi, karena faktor politik, pada tahun 1343 H (1924 M), pengiriman kiswah dari Mesir terhenti.Pada tahun 1392 H, raja Fadh ibn Abdul Aziz meletakkan batu pertama pabrik pembuat kiswah baru di Makkah. Pembangunannya selesai dan diresmikan pada tahun 1397 H. Di bawah koordinasi Departemen Urusah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, pabrik seluas 100.000 m2 ini menampung kurang lebih 250 pekerja.Kiswah terdiri dari lima potong kain. Empat potong untuk membungkus sisi-sisi Ka’bah sesuai dengan ukuran masing-masing sisi, sedang sepotong untuk menutup pintu. Bahan kiswah dari sutra murni diberi warna hitam, di sekelilingnya dirajut membentuk angka V, pada sepertiga bagian atas terdapat sabuk sepanjang 45 m dan lebar 90 cm. Sabuk kiswah ini dihiasi dengan ayat-ayat Al-Qur’an bercorak khat tsulusi, bersulam timbul dari benang perak yang disepuh dengan emas, terdiri dari 16 bagian dengan empat bagian pada setiap sisi Kakbah. Di sekelilingnya diberi ornamen-ornamen Islam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s