Hidup Sederhana


Kiranya, tidak ada seorang pun yang menolak menjadi
jutawan atau miliarder. Ya! Bisa jadi semua orang
ingin menjadi orang kaya. Namun tentu saja, sebagai
seorang Muslim kita tidak boleh memandang kekayaan
sekadar dari banyaknya harta benda. Kita harus mampu
mendayagunakan kemampuan materi kita agar menjadi
berkah. Artinya, bermanfaat di dunia maupun di
akhirat.

Secara sederhana, kekayaan yang berkah itu memiliki
tiga ciri. Pertama, kekayaan tersebut dapat
menyebabkan pemiliknya qana’ah (puas dan merasa
cukup), sehingga dia tidak merasa tersiksa atau
kekurangan. Bahkan dia akan menggunakannya untuk
beramal. Kedua, kekayaan berkah adalah kekayaan yang
dapat membuat batin pemiliknya tenang. Harta melimpah
tidak membuatnya bingung untuk mengelolanya dan tidak
pula menyebabkan rasa waswas untuk kehilangan. Ia
yakin bahwa semua yang dimilikinya adalah amanah dari
Allah SWT dan kapan pun bisa Allah ambil kembali.
Ketiga, pemiliknya menjadi lebih mulia daripada
kekayaan yang dimiliki. Seperti halnya Nabi Sulaiman,
nabi paling kaya, kekayaannya digunakan untuk ibadah
dan maslahat umat. Beliau menganggap, harta bukanlah
segalanya di dunia ini, namun hartanya dapat digunakan
untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Caranya,
harta tersebut dibelanjakan di jalan Allah melalui
zakat, infak, dan sedekah. Sebaliknya, jika
kekayaannya tidak berkah, maka pemiliknya tidak akan
merasa puas, tenteram, dan yang lebih parah lagi, ia
tergolong manusia yang sangat hina.

***

Saudaraku, berbicara mengenai menafkahkan harta,
kiranya patut kita sadari bahwa kita harus
berhati-hati atas kemungkinan berlaku boros. Sebab
Allah SWT dalam Quran Surat Al Israa ayat 26-27 telah
memperingatkan, “Dan berikanlah kepada
keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang
miskin, dan orang yang dalam perjalanan, dan janganlah
kamu menghamburkan hartamu secara boros. Sesungguhnya
pemboros-pemboros itu saudaranya setan dan setan itu
sangat ingkar kepada Tuhannya.” Naudzubillaah.
Perilaku boros adalah salah satu tipu daya setan
terkutuk yang dapat membuat harta yang kita miliki
tidak efektif mengangkat derajat kita. Harta yang
dimiliki justru efektif menjerumuskan, membelenggu,
dan menjebak kita dalam kubangan tipu daya harta,
karena kita salah dalam menyikapinya.

Orang yang dititipi Allah dengan limpahan harta,
kecenderungannya untuk menjadi pecinta harta biasanya
lebih besar. Sifat ini muncul salah satunya karena ada
keinginan untuk tampil lebih “wah”, lebih bermerek,
atau lebih keren dari orang lain. Padahal, makin
bermerek barang yang dimiliki justru akan menyiksa
diri.

Sebaliknya, kalau kita terbiasa dengan barang yang
biasa-biasa, dapat dipastikan hidup pun akan lebih
ringan. Mulailah dengan membeli sesuatu hanya karena
perlu dan mampu saja. Sekali lagi, hanya karena perlu!
Misalnya, ketika tersirat ingin membeli motor baru,
tanyakan; perlukah kita membeli motor baru? Sudah
wajibkah kita membelinya? Jika alasannya logis, maka
kalaupun jadi membeli, pilihlah yang skalanya paling
irit, paling hemat, dan paling mudah perawatannya.
Jangan berpikir dulu tentang keren atau mereknya.
Mending keren tapi menderita atau irit tapi lancar?

Tahanlah keinginan untuk berlaku boros dengan sekuat
tenaga, yakinlah makin kita bisa mengendalikan
keinginan kita, Insya Allah kita akan makin
terpelihara dari sikap boros. Sebaliknya, jika tidak
dapat kita kendalikan, maka pastilah kita akan disiksa
oleh barang-barang kita sendiri, yang harus bermerek.
Dan bahkan, bisa juga jadi dicurigai. Karena ada pula
orang yang ketika memakai sesuatu yang bermerek,
justru disangka barang temuan.

Saudara-saudaraku, Allah Maha Menyaksikan. Apa yang
dianjurkan Islam adalah jangan sampai mubazir.
Rasulullah SAW itu kalau makan sampai nasi yang
terakhir juga dimakan, karena siapa tahu disitulah
berkahnya. Kalau kita ke undangan pesta jangan
mengambil makanan berlebihan. Ini sangat tidak islami.

Kita harus bisa mempertanggungjawabkan setiap
perbuatan kita karena tidak ada yang kecil di mata
Allah. Tidak ada pemborosan karena semua dihitung oleh
Allah. Kita tidak bisa terjamin oleh harta, kalau
Allah ingin membuat penyakit seharga dua kali tabungan
kita sangat gampang bagi Allah. Tidak ada yang dapat
menjamin kita kecuali Allah oleh karena itu jangan
merasa aman dengan punya tabungan, tanah, dan warisan.
Dengan gampang Allah dapat mengambil itu semua tanpa
terhalang. Aman itu justru kalau kita bisa dekat
dengan Allah.

Hal lain yang membuat berkah adalah jika kita dapat
mendayagunakan semua barang-barang kita. Bersihkan
rumah kita dari barang-barang yang tidak berguna.
Lebih baik rusak digunakan orang lain daripada rusak
dibiarkan di rumah, itu akan berkah rezekinya.

Coba lihat lemari pakaian kita banyak baju-baju lama,
begitu juga sepatu-sepatu lama kita. Keluarkanlah
barang-barang yang tidak berharga tersebut. Mungkin
bagi orang lain sangat berharga. Di rumah kita tidak
terpakai tetapi jika dipakai orang lain dengan
kelapangannya dan mengeluarkan doa bisa jadi itulah
yang membuat kita terjamin. Kalau kita ikhlas, demi
Allah itu lebih menjamin rezeki kita daripada tidak
terpakai di rumah.

Jika kita jadi pengusaha, kita jadi kaya ketika
karyawannya diperas tenaganya, gajinya hanya pas buat
makan, sedang kita berfoya-foya, demi Allah kita akan
rugi. Pengusaha Islam sejati tidak akan berfoya-foya,
ia akan menikmati karyawannya sejahtera. Sehingga
tidak timbul iri, yang ada adalah cinta. Cinta membuat
kinerja lebih bagus, perusahaan lebih sehat. Dan
itulah namanya keuntungan.

Jadi, mulai sekarang setiap membelanjakan uang harus
menolong orang, membangun ekonomi umat. Jadi setiap
keluar harus multimanfaat bukan hanya dapat barang.
Misalnya, dengan membeli barang di warung kecil di
pinggir gang mungkin uangnya untuk menyekolahkan
anaknya, membeli sajadah, membeli mukena, Subhanallah.

***

Saudaraku, satu hal yang harus kita hindari adalah
merasa kaya dengan apa yang kita miliki dan merasa
cukup dengan karunia Allah. Lalu apa yang harus ada
pada diri kita? Merasa kaya dengan apa yang Allah
jaminkan kepada kita. Mengapa demikian? Karena tidak
sedikit orang yang sebenarnya memiliki pribadi miskin
tetapi merasa kaya dengan tabungan yang dipunyai,
merasa kaya dengan hartanya, atau merasa kaya dengan
rumahnya yang megah.
Ciri-ciri orang yang mempunyai kekayaan dunia tetapi
mempunyai kepribadian miskin adalah selalu mengambil
sesuatu dari sana-sini tanpa peduli halal atau haram
karena merasa miskin. Dia relakan dirinya terhina
dengan mencuri uang orang lain atau mengambil kekayaan
orang lain.

Orang yang kaya itu bukan yang banyak uangnya tetapi
orang yang sedikit kebutuhannya. Ketahuilah orang yang
tidak bersahaja dalam hidupnya akan sangat banyak pula
kebutuhan dan pengeluarannya, akibatnya biaya untuk
sedekah menjadi sedikit, biaya untuk menabung menjadi
terbatas. Yang dia lakukan terus-menerus memuaskan
dirinya dengan mengganti perhiasan, mengganti mobil,
ataupun mengganti sesuatu yang sebenarnya tidak perlu.
Sebenarnya tidak dilarang untuk menggganti rumah, tapi
yang kita butuhkan adalah orang yang punya harta yang
berlebih untuk bisa dinafkahkan kepada saudara yang
membutuhkan.

Hidup sederhana itu berarti menafkahkan harta dengan
tidak berlebihan untuk memuaskan nafsunya dan juga
tidak kikir dalam berbuat kebaikan. Pola hidup
sederhana memberikan dua keuntungan. Pertama, tidak
diperbudak oleh keinginan pamer. Sedangkan untuk pamer
itu akan membuat kita tersiksa. Bukankah ingin dilihat
orang lain itu membuat diri kita tersiksa? Bukannya
tidak boleh memiliki barang yang bagus, tapi apalah
artinya bagus tapi memperbudak diri kita. Kedua,
meminimalisasi pengeluaran. Makin mahal suatu barang,
maka biaya perawatannya pun akan semakin mahal pula.
Tapi kalau kita bersahaja Insya Allah biaya akan bisa
ditekan. Selain itu kalau kita biasa bersahaja kita
tidak akan membuat orang lain iri atau kotor hati.
Apalagi kalau dia bersahaja dan mampu menahan dirinya
untuk tidak pamer.

Saudara-saudaraku, seberapa besar pun biaya hidup akan
berdampak positif kalau kita bisa mengemasnya dengan
baik. Barang yang ada di rumah harus ada nilai
tambahnya, bukan biaya tambah. Setiap blender harus
ada nilai produktifnya, misalnya untuk membuat jus
kemudian dijual, pasti berkah. Bukannya membuat biaya
tambah karena harus diurus, dirawat, dan membutuhkan
pengamanan. Barang yang seperti ini tidak boleh ada di
rumah kita.
Rezeki kita pasti ada, tinggal kita kreatif saja.
Tidak perlu panik, Allah Maha Kaya. Wallahu a’lam.

(Republika Online)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s