Mukjizat Al-quran (dari sisi bahasa)


Sahabat Hikmah,

Ramadhan adalah Syahrul Qur’an ( Bulan Al-Qur’an)
Allah mewajibkan puasa di bulan Ramadhan adalah karena Ramadhan bulan yang Istimewa.
Karena Allah Subhanahu wa Ta’alaa telah meurunkan Al-Quran di dalamnya.
Artinya Allah telah memuliakan Al-Quran,
Sehingga Allah mewajibkan puasa di bulan Ramadhan, karena di bulan itu permulaan Al-Quran diturunkan.

“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai PETUNJUK bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan PEMBEDA (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS Albaqarah : 185)

Al-Qur’an adalah wahyu Allah ( 7:2 ) yang berfungsi sebagai MU’JIZAT bagi Rasulullah Muhammad saw ( 17:88; 10:38 ) sebagai PEDOMAN HIDUP (WAY OF LIFE) bagi manusia ( 4:105; 5:49,50; 45:20 ) dan sebagai KOREKTOR dan PENYEMPURNA terhadap kitab-kitab Allah yang sebelumnya ( 5:48,15; 16:64 ), dan bernilai abadi.

Sebagai MU’JIZAT, Al-Qur’an telah menjadi salah satu sebab penting bagi masuknya orang-orang Arab di zaman Rasulullah ke dalam agama Islam, dan menjadi sebab penting pula bagi masuknya orang-orang sekarang, dan ( insya Allah) pada masa-masa yang akan datang. Inilah hikmah tidak ada nabi lagi setelah Nabi Muhammad Shalallaahu ‘alaihi wa sallam dan hikmah Al-Quran dijaga oleh Allah Subahanahu wa Ta’ala sampai hari kiamat. Mu’jizat nabi-nabi terdahulu hanya bisa dilihat oleh orang pada jamannya, lain dengan Al-Quran, dia adalah kumpulan wahyu Allah Subahanahu wa Ta’ala yang dapat dilihat dan dipelajari oleh semua orang sampai hari kiamat.

Ayat-ayat yang berhubungan dengan ILMU PENGETAHUAN dapat meyakinkan kita bahwa Al-Qur’an adalah firman-firman Allah, tidak mungkin ciptaan manusia apalagi ciptaan Nabi Muhammad Shalallaahu ‘alaihi wa sallam yang ummi/ buta huruf (7:158) yang hidup pada awal abad ke enam Masehi (571 – 632 M). Diantara ayat-ayat tersebut umpamanya : 39:6; 6:125; 23:12,13,14; 51:49; 41:11-41; 21:30-33; 51:7,49 dan lain-lain.

Demikian juga ayat-ayat yang berhubungan dengan SEJARAH seperti tentang kekuasaan di Mesir, Negeri Saba’. Tsamud, ‘Ad, Yusuf, Sulaiman, Dawud, Adam, Musa dan lain-lain dapat memberikan keyakinan kepada kita bahwa Al-Qur’an adalah wahyu Allah bukan ciptaan Muhammad yang ummi dan tidak pernah membaca Al Kitab, melainkan wahyu yang diturunkan oleh Tuhan yang sama dengan nabi-nabi terdahulu.

Ayat-ayat yang berhubungan dengan RAMALAN-RAMALAN khusus yang kemudian dibuktikan oleh sejarah seperti tentang bangsa Romawi, berpecah-belahnya Kristen dan lain-lain juga menjadi bukti lagi kepada kita bahwa Al-Qur’an adalah wahyu Allah SWT. (30:2,3,4;5:14).

Itulah mengapa orang-orang Madinah yang Ahli Kitab (Yahudi dan Nashrani) lebih dahulu berbondong-bondong mengikuti Nabi Muhammad Shalallaahu ‘alaihi wa sallam dibandingkan penduduk Mekah yang ummi/buta huruf (waktu awal dakwah Islam, yang bisa membaca dan menulis menurut ahli sekitar 15 orang ) dan tidak mengenal Al Kitab.

Bahasa Al-qur’an adalah mu’jizat besar sepanjang masa, keindahan bahasa dan kerapihan susunan katanya tidak dapat ditemukan pada buku-buku bahasa Arab lainnya. Gaya bahasa yang luhur tapi mudah dimengerti adalah merupakan ciri dari gaya bahasa Al-Qur’an. Karena gaya bahasa yang demikian itulah Umar bin Khattab masuk Islam setelah mendengar Al-Qur’an awal surat Thaha yang dibaca oleh adiknya Fathimah. Abul Walid, diplomat Quraisy waktu itu, terpaksa cepat-cepat pulang begitu mendengar beberapa ayat dari surat Fushshilat yang dikemukakan Rasulullah sebagai jawaban atas usaha-usaha bujukan dan diplomasinya. Bahkan Abu Jahal musuh besar Rasulullah, sampai tidak jadi membunuh Nabi karena mendengar surat adh-Dhuha yang dibaca Nabi.

Bahkan kata-kata dalam Al Quran juga memiliki KESEIMBANGAN KATA , Dr. M. Quraish Shihab mengambil contoh dari Al I’jaz Al Adabiy li Al Quran Al Karim karya Abdurrazaq Nawfal. Beberapa di antaranya, adalah:

a. Keseimbangan kata yang bertolak belakang.

– Kata al-hayah (hidup) dan al-maut (mati), masing-masing disebut 145 kali.

– Kata al-naf’ (manfaat) dan al-madhorroh (mudarat), masing-masing disebut 50 kali.

–Kata al-har (panas) dan al-bard (dingin), masinggmasing disebut 4 kali.

– Kata as-sholihat (kebajikan) dan al-syayi’at (keburukan), masing-masing disebut 167 kali.

– Kata al-Thuma’ninah (kelapangan/ketenangan) dan al-dhiq (kesempitan/kekesalan), masing-masing disebut 13 kali.

– Kata ar-rohbah (cemas/takut) dan al-roghbah (harap/ingin), masing-masing disebut 8 kali.

– Kata al-kufr (kekufuran) dan al-iman (iman) dalam bentuk definite, masing-masing disebut 17 kali.

– Kata al-kufr (kekufuran) dan al-iman (iman) dalam bentuk Indifinite, masing-masing disebut 8 kali.

– Kata al-shoyf (musim panas) dan al-syita’ (musim dingin) masing-masing disebut 1 kali.

b. Keseimbangan jumlah kata dengan sinonimnya (dua kata yang artinya sarna).

– Al-harts dan al-Ziro’ah (membajak/bertani), masing-masing disebut 14 kali

– Al-‘ushb dan al-dhurur (membanggakan diri/angkuh), masing-masing disebut 27 kali

– Al-aql dan al-nur (akal dan cahaya), masing-gmasing disebut 49 kali.

– Al-jahr dan al-‘aIaniyah (nyata), masing-masing disebut 16 kali.

c. Keseimbangan antara jumlah kata dengan jumlah kata yang menunjuk kepada akibatnya.

– Al-infak (infak) dengan al-ridha (kerelaan), masing-masing disebut 73 kali

– Al-bukhl (kekikiran) dengan al-hasanah (penyesalan), masing-masing disebut 12 kali

– Al-kafirun (orang-orang kafir) dengan al-nar / al-ahroq (neraka/pembakaran), masing-masing 154kali

– Al-Zakah (zakat/penyucian) dengan al-barokat (kebajikan yang banyak), masing-masing disebut 32 kali.

– Al-fahisyah (kekejian) dengan al-ghodb (murka), masing-masing disebut 26 kali

d. Keseimbangan jumlah kata dengan kata penyebabnya.

– Kata al-isrof (pemborosan) dengan al-sur’ah (ketergesa-gesaan), masing-masing disebut 23 kali

– Kata al-maw’izhoh (nasihat/petuah) dengan al lisan (lidah), masing-masing disebut 25 kali

– Kata al-asro (tawanan) dengan al-harb (perang), masing-masing disebut 6 kali

– Kata al-salam (kedamaian) dan al-thayyibat (kebajikan), masing-masing 60 kali

e. Disamping keseimbangan-keseimbangan tersebut, ditemukan juga keseimbangan khusus.

1) Kata yawm (hari) dalam bentuk tunggal sejumlah 365 kali sebanyak hari-hari dalam setahun.

Sedangkan kata hari yang menunjuk kepada bentuk plural (ayyam) atau dua (yawmayni), jumlah keseluruhannya hanya tiga puluh, sama dengan jumlah hari dalam sebulan. Di sisi lain, kata yangberarti “bulan” (syahr) hanya terdapat dua belas kali, sama dengan jumlah bulan dalam setahun.

2) Al Qur-an menjelaskan bahwa langit ada “tujuh”.

3) Kata-kata yang menunjuk kepada utusan Tuhan, baik rasul (rasul), atau nabiyy (nabi), atau basyir (pembawa berita gembira), atau nadzir (pemberi peringatan), keseluruhannya berjumlah 518 kali. Jumlah ini seimbang dengan jumlah penyebutan nama-nama nabi, rasul dan pembawaberita tersebut, yakni 518 kali.



Tepat apa yang dinyatakan Al-Qur’an, bahwa sebab seorang tidak menerima kebenaran Al-Qur’an sebagai wahyu Ilahi adalah salah satu diantara dua sebab, yaitu :

a. Tidak berpikir dengan jujur dan sungguh-sungguh.

b. Tidak sempat mendengar dan mengetahui Al-Qur’an secara baik (67:10, 4:82).

Oleh Allah dalam All-Qur’an disebut Al-Maghdhub ( dimurkai Allah ) karena tahu kebenaran tetapi tidak mau menerima kebenaran itu, dan disebut adh-dhollin ( orang sesat ) karena tidak menemukan kebenaran itu.

Sebagai jaminan bahwa Al-Qur’an itu wahyu Allah, maka Al-Qur’an sendiri menantang setiap manusia untuk membuat satu surat saja yang senilai dengan Al-Qur’an (2:23, 24, 17:88). Sebagai pedoman hidup, Al-Qur’an banyak mengemukakan pokok-pokok serta prinsip-prinsip umum pengaturan hidup dalam hubungan antara manusia dengan Allah dan mahluq lainnya.

Didalamnya terdapat peraturan-peraturan seperti :

Beribadah langsung kepada Allah (2:43,183,184,196,197; 11:114),

Berkeluarga (4:3, 4,15,19,20,25; 2:221; 24:32; 60:10,11),

Bermasyarakat ( 4:58; 49:10,13; 23:52; 8:46; 2:143),

Berdagang (2:275,276,280; 4:29),

Utang-piutang (2:282),

Kewarisan (2:180; 4:7-12,176; 5:106),

Pendidikan dan pengajaran (3:159; 4:9,63; 31:13-19; 26:39,40),

Pidana (2:178; 4:92,93; 5:38; 10:27; 17:33; 26:40),

dan aspek-aspek kehidupan lainnya yang oleh Allah dijamin dapat berlaku dan dapat sesuai pada setiap tempat dan setiap waktu (7:158; 34:28; 21:107).

Setiap Muslim diperintahkan untuk melakukan seluruh tata nilai tersebut dalam kehidupannya (2:208; 6:153; 9:51).

Dan sikap memilih sebagian dan menolak sebagian tata nilai itu dipandang Al-Qur’an sebagai bentuk pelanggaran dan dosa (33:36).

Melaksanakannya dinilai ibadah (4:69; 24:52; 33:71),

Memperjuangkannya dinilai sebagai perjuangan suci (61:10-13; 9:41),

Mati karenanya dinilai sebagai mati syahid (3:157, 169),

Hijrah karena memperjuangkannya dinilai sebagai pengabdian yang tinggi (4:100, 3:195),

Dan tidak mau melaksanakannya dinilai sebagai zhalim, fasiq, dan kafir (5:44,45,47).

LANJUTANNYA SILAHKAN DIBACA DI PAGE KATA-KATA HIKMAH:
http://www.facebook.com/note.php?note_id=438575550848

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s