Tipe-tipe Guru


Siapa yang mengajari anda membaca? Siapa yang mengajari anda menghitung? Mengajari merangkai kalimat? pasal-pasal UUD 1945? memainkan gitar? senam? bahkan doa sebelum makan? GURU. Siapa lagi yang bisa menentukan kita lulus dalam ulangan harian? GURU. Siapa lagi yang namanya dijadikan salah satu hymne? GURU lagi. Memang banyak pertanyaan “siapa” lagi semacam itu, kita pasti jawab dengan lantang, “Guru”.
Mungkin emang dari awal kita harus belajar, sehingga kita selalu banyak bertanya pada guru. Tapi, jika dihitung-hitung, ternyata guru lebih banyak bertanya pada kita lho. Bener gak? Mengapa bisa begitu? Karena guru pada dasarnya memang bertanggung jawab untuk mengetahui sejauh mana sih ilmu yang disampaikannya masuk pada kita.

Yup, sosok guru. “digugu lan ditiru”. Sosok guru mempunyai tanggung jawab yang begitu besar pada peserta didiknya. Dari tanggung jawab keilmuwan sampai pada tanggung jawab akhlaknya. Sehingga seorang guru pun harus professional, dalam artian harus menguasai ilmu dan psikoloagi siswa. Kalau tidak, BERBAHAYA. Apalagi tuntutan siswa sekarang lebih mantab lagi. Dari target yang bernama UN, SNMPTN, dunia kerja, sampai dengan akhirat, sedikit banyak, guru lah yang bertanggung jawab terhadap itu semua. Sungguh berat, bukan?

Lebih dari separuh usia penulis, nama guru selalu ada (sampai akhirnya penulis juga terpanggil untuk menjadi seorang guru). Nah, dari sekian banyak guru-guru yang pernah mengajarkan ilmu pada penulis dan juga temen-temen guru di mana aja, kayaknya guru-guru di Indonesia punya ke-khas-an sendiri (gak tau kalo di luar negeri kayak gimana, belum pernah sih… ). Sehingga seorang guru kadang memenuhi tipikal-tipikal berikut ini.

Tipe pertama,

Guru berkharisma dan berwibawa. Umumnya punya sorot mata yang menenangkan, bentuk kumis yang beragam, raut muka tenang dan tegas, tapi juga mudah beradaptasi dengan berbagai atmosfer kondisi yang bagaimanapun juga, dan auranya jelas terasa. Mungkin bawaan dari lahir, guru ini disegani. Saat sebuah kata pujian mengalir dari mulutnya, hati kita terasa bahagia sebahagianya. Saat nasihat darinya muncul, “mas, belajar yang rajin dan jadilah orang yang berguna bagi orang lain”, siswa mana yang tidak merenung dan mengubah jalur hidupnya. Guru seperti ini jarang sekali bernada tinggi ketika berbicara. Saat guru ini mengajar, jangankan membolos, ngelamunpun akan terasa sayang. Biasanya guru ini memiliki ilmu dan wawasan yang begitu luas. Jika guru ini berada dalam jajaran pejabat sekolah, maka sekolah ini akan tersohor sampai ke dataran cina.

Tipe kedua,

Guru yang cinta damai. Tidak sekharismatik guru tipikal yang pertama, tapi pada intinya guru ini membuat hidupmu, belajarmu, dan langkahmu jadi lebih mudah. Ilmu dan kapasitasnya mumpuni. Jarang terlihat sebagai seorang pejabat sekolah. Namun guru ini selalu mempunyai pendapat yang bisa menyelesaikan solusi. Guru ini biasa memandang suatu masalah dengan kacamata yang berbeda, bahkan tanpa kacamata supaya selalu terlihat jernih. Guru macam ini jarang juga bersuara dengan nada tinggi, bahkan tidak pernah “bermain” kapur ataupun penghapus. Terkadang guru ini hampir punya sifat yang sama dengan yang guru tipe pertama. Singkatnya, bisa jadi sosok pendidik yang lebih disegani daripada Barrack Obama.

Tipe ketiga,

Guru yang paling terkenal dari jaman kakek nenek kita. Banyak banget julukannya. Dari yang namanya killer, siluman, parah, dan makian-makian lainnya yang bisa membuat merinding. Makian-makian ini pun meyebar dari jenjang SD sampai SMA. Ini fakta lho. Motto guru tipe ini adalah “Disiplin adalah sebagian dari iman”. Bagi siswa yang melakukan tindakan indisipliner, hanya teguran “keras” dan sanksi keraslah yang dapat meluruskannya kembali. Sering dijumpai guru tipe ini adalah guru-guru ilmu eksakta (match banget sama kajian ilmunya, tegas, lugas, dan lurus), dan bukan tidak mungkin dijumpai pada guru-guru non eksakta, semisal guru yang berhubungan dengan ketatanegaraan dan sejarah (dua hal yang menjadi esensi kebangsaan kita). Walaupun sosok guru ini sungguh mengerikan, tapi sosok guru ini biasanya berjalan beriringan dengan tipe guru yang kedua. Bersinergi membentuk generasi penerus bangsa yang disiplin, tegas, tapi bisa menyesuiakan dengan segala kondisi, penuh inspirasi dan cinta damai tentunya. Kebanyakan guru-guru tipe ketiga ini ada pada jaman bapak ato kakek kita dulu. Lah, dulu aja diajar sedisiplin itu, ternyata sekarang masih banyak hasil didikannya yang korupsi, apalagi jika guru semacam ini sekarang menghilang? Jadi, guru tipe ketiga ini masih sangat dibutuhkan. Sebenarnya kebencian siswa-siswa ini pun hanya sementara saja, ketika masih duduk di bangku sekolah. Setelah lulus, baru lah tahu arti penting dari guru tipe ini.

Tipe keempat,

Guru yang biasa-biasa aja. Kadang bisa tinggi kadang juga rendah. Mereka hanyalah seorang Oemar Bakri biasa, yang berangkat mengajar naik sepeda “onthel”, naik angkot, atau kalau beruntung mempunyai motor sendiri. Guru-guru ini merupakan contoh nyata kegagalan pemerintah dalam mengembangkan sumberdaya manusia. Tau sendiri kan gimana prioritas pemerintah kemana? politik dan ekonomi no.1 sementara pendidikan, yang disebut-sebut diprioritaskan, nyata-nyatanya …? Padahal jika potensi-potensi ini dipoles dengan benar, sangat menjanjikan. Tak hanya pemerintah, masyarakat pun turut membawa andil dalam pembentukan tipe guru seperti ini. Mengapa masyarakat selalu memicingkan mata terhadap S1 IKIP (Pendidikan Keguruan)? Mengapa selalu yang dikedepankan S1 Teknik Sipil, Informatika, Kedokteran, Ekonomi, atau Hukum? Malah ada lagi anggapan yang benar-benar gak enak dari kalangan umum. Bahwa yang masuk Keguruan adalah orang yang nota bene kantongnya tipis, gak punya duit, dan utangnya seabreg.

Tipe kelima,

Guru-guru yang menyedihkan, bikin malu Ki Hajar Dewantoro. Guru yang memanipulasi iuran pendidikan siswa baru, menganjurkan kecurangan massal baik dalam ujian maupun dalam prosedural perkantoran, yang tidak tau dan tidak mau tau anak didiknya, yang menganakemaskan siswa ganteng (guru perempuan) dan siswi cantik (guru laki-laki), yang sering bolos ngajar tanpa kepentingan sekolah dan keluarga, yang suka memberi contoh yang tidak baik (merokok sambil mengajar di depan kelas, mojok dengan siswi-nya atau bahkan dengan guru lain di saat istrinya kepayahan di rumah). Sungguh menyedihkan bukan? Mau dikemanakan nasib jutaan pelajar di Indonesia yang selalu menyanyikan hymne guru tiap tanggal 2 Mei? Kita masih bisa menerima kalau orang-orang seperti tadi bekerja di tempat pengurusan SIM, tapi kalau di sekolah? Nau’udhubillahi min dzalik… Tipe guru seperti ini mungkin bukanlah pilar penyangga pendidikan yang dibutuhkan di sekolah anda atau mungkin bukan pula di negara anda. Mungkin menyakitkan. Tapi, pelajar-pelajar di negeri ini butuh dipoles dengan benar, supaya misi pendidikan berhasil secara total.

Yah, itu beberapa tipe guru yang saya rasa pernah saya temui.

Dari uraian di atas, sudah idealkah guru-guru di Indonesia? Pertanyaan itu bisa anda temukan jawabannya sendiri.

Walau bagaimanapun juga pendidikan yang baik dimulai dari guru yang baik. Siswa yang baik muncul dari proses pendidikan yang baik. Siswa yang baik juga diharapkan mampu mengaplikasikan hasil pendidikan tersebut untuk merubah yang tidak baik menjadi baik. Jadi, pada intinya semua bermuara pada guru yang baik. Baik pun tidaklah cukup. Guru harus mempunyai ilmu pengetahuan dan wawasan yang luas dan kaya. Guru harus juga berkarakter.

Tipe guru nomor 1, 2, dan 3 layak untuk dijadikan contoh. So, kalau menjadi guru adalah panggilan hati anda, abdikan diri anda sepenuhnya…

(disarikan dari panjangbanget.posterous.com)

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s